Kelas Bahasa Mandarin di Universitas Narotama, Bekal Strategis Menuju Peluang Studi dan Karier di Taiwan
08 September 2026, 05:01:23 Dilihat: 11x
Universitas Narotama terus memperluas layanan pengembangan kompetensi bagi sivitas akademika melalui program kursus Bahasa Mandarin secara gratis. Program yang dilaksanakan melalui kerja sama dengan INTACT Base, lembaga pendidikan yang berada dalam jejaring pemerintah Taiwan, menjadi salah satu program unggulan yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Mandarin tanpa biaya kursus.
Kepala Subdirektorat Kerja Sama Universitas Narotama, Ani Wulandari, S.S., M.M., menjelaskan bahwa program tersebut pada awalnya dirancang untuk mendukung persiapan mahasiswa yang akan mengikuti program double degree maupun peluang studi dan kerja di Taiwan, khususnya melalui program beasiswa INTENSE.
“Program kursus Bahasa Mandarin ini sebetulnya awalnya ditujukan untuk persiapan teman-teman yang mengikuti double degree ke Taiwan,” jelas Ani.
Menurutnya, kemampuan Bahasa Mandarin menjadi salah satu aspek penting dalam mempersiapkan mahasiswa sebelum melanjutkan pendidikan di Taiwan. Untuk mahasiswa program magister (S2), misalnya, peserta yang akan berangkat ke Taiwan dipersyaratkan telah memiliki kemampuan Bahasa Mandarin hingga level A2.
Dalam sistem penguasaan bahasa, level A1 dan A2 termasuk kategori tingkat dasar atau beginner. Setelah itu, kemampuan berlanjut ke level B1 dan B2 yang menunjukkan tingkat penguasaan yang semakin tinggi, kemudian C1 dan C2 yang termasuk tingkat lanjut (advanced).
Ani menjelaskan, untuk kebutuhan tertentu di Taiwan, khususnya dalam konteks pekerjaan, kemampuan minimal yang diperlukan berada pada level A2. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Mandarin sejak di Indonesia menjadi bekal penting bagi mahasiswa yang memiliki rencana melanjutkan studi, mengikuti program beasiswa, maupun membangun peluang karier di Taiwan.
“Untuk pekerja minimal A2. Karena itu, teman-teman mahasiswa perlu mulai merintis kemampuan Bahasa Mandarin sejak di Indonesia,” ujarnya.
Program di Universitas Narotama sendiri dilaksanakan mulai dari level A1, sedangkan pembelajaran level A2 dapat dilanjutkan melalui INTACT Base Surabaya yang berlokasi di Gedung Praxis atau melalui pembelajaran secara daring.
Salah satu keunggulan utama program ini adalah peserta tidak dikenakan biaya kursus. Menurut Ani, hal tersebut dimungkinkan karena Universitas Narotama memiliki hubungan kerja sama dengan INTACT Base.
Kerja sama tersebut juga tidak terlepas dari keterlibatan Universitas Narotama dalam program INTENSE, yaitu program beasiswa dari pemerintah Taiwan yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengikuti studi dan kerja di Taiwan.
Kesempatan kursus Bahasa Mandarin secara gratis tersebut menjadi nilai strategis bagi sivitas akademika karena kursus bahasa pada umumnya membutuhkan biaya.
Dengan demikian, program yang tersedia di Universitas Narotama memberikan akses pembelajaran bahasa asing yang lebih terjangkau sekaligus terintegrasi dengan peluang akademik dan internasionalisasi.
Seiring meningkatnya minat terhadap Bahasa Mandarin, cakupan program kemudian diperluas. Tidak hanya mahasiswa yang akan mengikuti program ke Taiwan, tetapi juga seluruh sivitas akademika Universitas Narotama, termasuk mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.
“Kita berusaha mengakomodasi animo dan ketertarikan dari teman-teman sivitas akademika Narotama,” kata Ani.
Saat ini, peserta kursus berasal dari berbagai unsur sivitas akademika. Beberapa dosen dan tenaga kependidikan turut mengikuti pembelajaran, sementara sejumlah mahasiswa juga bergabung meskipun tidak mengikuti program beasiswa INTENSE.
Untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, kursus Bahasa Mandarin di Universitas Narotama dilaksanakan secara intensif. Jika pada umumnya pembelajaran berlangsung dua kali dalam satu minggu dengan durasi sekitar dua jam setiap pertemuan, dalam program ini pembelajaran ditingkatkan menjadi tiga kali pertemuan secara offline dalam satu minggu.
Pengajar yang memberikan materi juga berasal langsung dari INTACT Base sehingga pembelajaran ditangani oleh tenaga pengajar yang memiliki kompetensi profesional dalam Bahasa Mandarin.
Intensitas pembelajaran tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa mencapai kemampuan bahasa yang diperlukan dalam waktu yang lebih efektif, terutama bagi mereka yang memiliki target keberangkatan ke Taiwan.
Menurut Ani, keberadaan kursus Bahasa Mandarin gratis ini menjadi salah satu keunggulan kerja sama internasional yang dimiliki Universitas Narotama. Program serupa tidak secara otomatis tersedia di seluruh perguruan tinggi karena pelaksanaannya bergantung pada kerja sama dengan INTACT Base.
“Ini sebetulnya salah satu produk unggulan Subdirektorat Kerja Sama dan UPT Bahasa. Tidak semua kampus memiliki program seperti ini, hanya yang bekerja sama dengan INTACT Base dan kebetulan ditunjuk oleh INTACT Base,” terangnya.
Pembelajaran Bahasa Mandarin juga diarahkan pada penguasaan yang dapat dibuktikan melalui sertifikasi. Salah satu sertifikasi yang berkaitan dengan kemampuan Bahasa Mandarin adalah Test of Chinese as a Foreign Language (TOCFL).
Ani menjelaskan bahwa biaya ujian TOCFL relatif terjangkau jika dibandingkan dengan sejumlah tes kemampuan bahasa asing lainnya.
Bagi mahasiswa S1 yang mengikuti program ke Taiwan, kemampuan Bahasa Mandarin hingga A2 dapat dicapai setelah berada di Taiwan, sedangkan mahasiswa S2 yang akan berangkat diwajibkan telah memiliki sertifikat A2 dari Indonesia.
Untuk mencapai satu level kemampuan bahasa, menurut Ani, rata-rata dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan apabila proses pembelajaran dilakukan secara intensif. Namun, keberhasilan tidak hanya bergantung pada kegiatan kursus.
“Tidak hanya mengandalkan kursus. Setelah kursus juga perlu belajar secara mandiri, misalnya melalui aplikasi dan sumber belajar di internet,” jelasnya.
Bahasa Mandarin memiliki karakteristik tersendiri yang membuat proses pembelajarannya membutuhkan ketekunan. Salah satunya adalah penggunaan nada atau tone yang dapat memengaruhi makna suatu kata.
Bahasa Mandarin memiliki empat nada utama. Perbedaan nada dalam pengucapan dapat menyebabkan perbedaan makna, sehingga peserta membutuhkan proses adaptasi dan latihan yang konsisten.
Karena itu, kemampuan Bahasa Mandarin tidak dapat diperoleh hanya melalui beberapa kali pertemuan. Diperlukan kebiasaan, latihan berkelanjutan, dan kemauan untuk belajar secara mandiri.
Ani menilai, penguasaan Bahasa Mandarin dapat menjadi investasi kompetensi yang memberikan nilai tambah di masa depan.
“Dimanfaatkan kesempatan ini mumpung gratis dan harus telaten, karena bahasa itu kan bisa karena biasa,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa peluang di masa depan tidak selalu dapat diprediksi. Penguasaan Bahasa Mandarin dapat menjadi nilai tambah ketika seseorang memperoleh kesempatan kerja, beasiswa, maupun peluang akademik yang berkaitan dengan Taiwan dan negara-negara yang menggunakan Bahasa Mandarin.
Lebih jauh, Ani menilai Bahasa Mandarin memiliki posisi strategis dalam dunia profesional saat ini.
“Bahasa Mandarin itu bahasa bisnis kedua di dunia. Jadi menguasai Bahasa Mandarin di era saat ini akan sangat berguna di dunia kerja, setelah Bahasa Inggris,” pungkasnya.
Program kursus Bahasa Mandarin gratis di Universitas Narotama diproyeksikan tetap berjalan selama program beasiswa INTENSE masih berlangsung. Pemerintah Taiwan menargetkan keberlangsungan program INTENSE dalam jangka sekitar lima hingga tujuh tahun, dan saat ini Universitas Narotama telah memasuki Batch ke-3 atau tahun ketiga pelaksanaan program tersebut.
Keberlanjutan program ini sekaligus membuka peluang bagi sivitas akademika Universitas Narotama untuk mempersiapkan kompetensi bahasa sejak dini.
Bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan yang memiliki ketertarikan terhadap Bahasa Mandarin, program tersebut bukan hanya menjadi kesempatan untuk mempelajari bahasa asing secara gratis, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan kompetensi dan pembukaan akses menuju peluang akademik, mobilitas internasional, beasiswa, serta karier di masa mendatang.