Waspadai Dampak Ikutan Brexit pada Perekonomian RI
27 Juni 2016, 09:33:18 Dilihat: 321x

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Pemerintah dan dunia usaha Tanah Air perlu mewaspadai dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau dikenal dengan istilah Brexit terhadap perekonomian Indonesia.
Praktisi perbankan Jahja Setiatmadja mengatakan, dampak langsung Brexit terhadap ekonomi Indonesia relatif tidak ada. Namun dampak tidak langsungnya tetap perlu diwaspadai, terutama di sektor keuangan.
Jahja menjelaskan, keluarnya kubu pro Inggris keluar dari Uni Eropa sebagai pemenang dalam voting yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Inggris telah membuat kurs mata uang Inggris Poundsterling jatuh terhadap sejumlah mata uang uang kuat dunia. Misalnya dolar AS.
Jika kejatuhan Pound membuat permintaan terhadap dolar AS meningkat, efeknya akan juga dirasakan terhadap kurs rupiah terhadap dolar AS,
"Efek langsung (Brexit) tak ada, tapi kurs ini kalau (kurs) Pound jatuh karena Brexit, pengaruh ke dolar juga. Kalau permintaan dolar jadi tinggi, dolarnya akan berpengaruh ke kita juga. Exchange rate (kurs valas) terpengaruh," kata Jahja Setiatmadja menjawab pertanyaan Tribun di sela acara berbuka puasa forum editor dengan direksi Bank Central Asia di Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (24/6/2016) petang.
Dikhawatirkan, jika permintaan dolar AS tinggi, dolar AS juga ikut terus menguat terhadap rupiah.
"Seharusnya ini hanya dampak short term (jangka pendek) ya, tapi masalahnya Perancis dan Belanda serta Austria kan ada wacana mau ikut-kutan keluar dari Uni Eropa," jelas Jahja.
Hingga Jumat (24/6/2016) WIB, dalam voting di Inggris, kubu yang ingin meninggalkan Uni Eropa menang dengan perolehan suara 51,9 persen. Sementara, kubu yang tetap bertahan di Uni Eropa sebanyak 48,1 persen.
Jahja menjelaskan, perekonomian Indonesia saat ini sedang sulit. Banyak sektor usaha yang turun, termasuk sektor pertambangan dan perkebunan. Daya beli jatuh.
Anggaran Pemerintah dalam APBN juga bermasalah karena realisasi penerimaan pajak yang jauh di bawah target.
Dibandingkan dengan tahun 2008, kondisi ekonomi Indonesia di mata Jahja lebih buruk
"Tahun 2008 itu daya beli masyarakat masih bagus. Sekarang kondisinya parah. Daya beli sekarang jatuh. Sektor pertambangan, perkebunan, manufaktur, packaging sekarang semua turun," katanya.
"Di sektor manufaktur sekarang line produksi di banyak perusahaan sudah sangat berkurang. Begitu juga di sektor tekstil," katanya.
Menurutnya, paket kebijakan ekonomi yang diterbitkan Presiden Jokowi belum banyak menolong ekonomi RI.
"Paket-paket kebijakan itu niatnya menolong, tapi yang penting sebenarnya adalah bagaimana pemerintah bisa melakukan employment creation (penciptaan lapangan kerja). Tapi problemnya, APBN kita lemah, belamja pemerintah juga turun," tegasnya.
Menurutnya, pelemahan ekonomi Tanah Air saat ini juga karena dampak ekonoi global yang juga melemah. China yang selama ini banyak menyerap komoditi Indonesia juga sedang turun permintaannya. Dampaknya juga terasa bagi Indonesia.
"Ekonomi kita sangat terpengaruh oleh ekonomi China. Ekspor komoditas kita ke China tinggi. Tapi problemnya China lagi susah, malah rakyat mereka sekarang cari kerja ke sini," kata Jahja.
Share:

UN Videos

Java Coffee Culture and Festival Peneleh 2024
Rapat Terbuka Senat dalam rangka Wisuda Sarjana ke - 56 dan Magister ke - 44
Wisuda Sarjana Ke 54 dan Magister Ke 42 Universitas Narotama

UN Cooperation

De Montfort Leicester University Alexandria University Chiang mai university Derby University
 
Essex I Coe Rel UTHM ICOGOIA University Malaysia PAHANG Universiti Utara Malaysia
 
National University Kaohsiung Taiwan Politeknik Sultan Mizan Zainal Abidin Prince Sultan University Quest Nawab Shah Pakistan Universiti Teknologi MARA
 
Universiti Kebangsaan Malaysia Universiti Malaysia Kelantan Universiti Malaysia Perlis Universiti Zainal Abidin Universiti Sains Malaysia
 
Universiti Pendidikan Sultan Idris Erasmus

 

INTAKINDO PT. Aria Jasa Konsultan Bumi Harmoni Indoguna Cakra Buana Consultan Ciria Jasa Consultant
 
Internasional Peneliti Sosial Ekonomi Teknologi PT. Jasa Raharja NOKIA INKINDO MASKA
 
Surabaya TV PT. Amythas General Consultant
 
       

 

Perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia IT Telkom Surabaya Institut Aditama Surabaya Institut Teknologi Nasional Malang
 
Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya Politeknik Negeri Malang Universitas Pakuan Universitas Nasional Kualita Pendidikan Indonesia
 
Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Politeknik Negeri Bali Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin Pasuruan
 
Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul `Ula Nganjuk Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Al Anwar Mojokerto STIE NU Trate Gresik Sekolah Tingi Ilmu Ekonomi Widya Gama Lumajang Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yapan Surabaya
 
STIE Pemuda STIKOSA STKIP PGRI Bangkalan STKIP PGRI Jombang STKIP PGRI Sidoarjo
 
STT Pomosda Nganjuk UINSA Universitas Mercu Buana Universitas Airlangga Universitas Darul `Ulum Jombang
 
Universitas Negeri Surabaya Universitas Brawijaya Malang Teknik Sipil Universitas Negeri Surabaya Universitas PGRI Adi Buana Surabaya UNIPDU
 
UNISLA UNISMA Universitas 45 Bekasi Universitas Dr.Soetomo UNITRI
 
Universitas 45 Surabaya Universitas Bondowoso Universitas Islam Madura Pamekasan Universitas Jember Universitas Maarif Hasyim Latif
 
Universitas Madura Universitas Merdeka Surabaya Universitas Bina Darma Universitas Wijaya Putra Universitas Padjajaran
 
Universitas Muhammadiyah Malang Universitas Muhammadiyah Papua Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Universitas Muhammadiyah Surabaya Universitas Negeri Malang
 
Universitas Islam Raden Rahmat Universitas Widyagama Malang Universitas Pembangunan Nasional Veteran Surabaya UWIKA Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
 
UNIVERSITAS SUNAN BONANG TUBAN Universitas 17 Agustus Surabaya UNUGIRI Bojonegoro Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
 
Akademi Pariwisata Majapahit  

 

Copyright (c) 2025 by UN | Universitas Narotama, All Rights Reserved.