go green
Recent Issues

Tips Investasi Agar Tak Jadi Korban Bak Nasabah Indosterling

Tips Investasi Agar Tak Jadi Korban Bak Nasabah Indosterling

29 November 2020, 09:00:01

Jakarta -- Kasus dugaan gagal bayar kembali terjadi. Kali ini, korbannya merupakan nasabah investasi PT Indosterling Optimal Investa (IOI) yang dibangun Sean William Hanley dengan kerugian hingga lebih dari Rp1 triliun.

Perkara gagal bayar tersebut kini berlanjut dalam pengadilan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Diperkirakan total nasabah mencapai 2 ribu orang dengan total kerugian Rp1,9 triliun.

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Andy Nugrohomenilai terjeratnya nasabah dalam kasus gagal bayar tersebut disebabkan oleh ketidakcermatan dalam memilih investasi.

Berikut tip bagi masyarakat yang ingin menempatkan dananya melalui perusahaan manajemen investasi agar tak terjerat kasus serupa:

1. Legalitas Perusahaan
Hal pertama yang harus dicek calon investor adalah legalitas perusahaan yang menawarkan investasi tersebut ke database Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu bisa cek juga ke Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komodit (Bappebti) bila produknya adalah perdagangan komoditas berjangka, atau ke Kementerian Koperasi dan UKM bila berbentuk koperasi.

"Bisa juga cek ke instansi-instansi terkait untuk produk-produk investasi lainnya," ujar Andy saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (20/11).

2. Gunakan Logika
Selanjutnya, bila secara legalitas sudah aman, calon investor juga harus memperhatikan sisi logis dari investasi yang ditawarkan. Terutama, apakah imbal hasil yang ditawarkan masih rata-rata sama atau lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan produk sejenis dari perusahaan lainnya.

"Bila ternyata nilainya jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata lainnya, maka sepatutnya kita harus mulai waspada," jelasnya.

3. Pahami Syarat dan Ketentuan
Selanjutnya, apabila dari kedua sisi tersebut aman, calon investor juga harus memahami syarat dan ketentuan serta aturan main dari produk investasi tersebut.

Dalam hal ini perlu dicermati apakah hak pengelolaan dan menjalankan investasi hanya berdasarkan instruksi calon investor atau calon investor juga memberikan hak untuk pengelolaannya kepada pihak lain.

Lalu jika calon investor merugi maka kerugian tersebut akan kita tanggung sendiri atau menjadi tanggung jawab pihak perusahaan juga. "Hal ini tentunya untuk menghindari kerugian bagi kita sebagai nasabah, dan menghindari kesalahpahaman atas risiko investasi yang kemungkinan terjadi," imbuhnya.

4. Diversifikasi Investasi
Kemudian, calon investor juga perlu memahami bahwa sekecil apapun risiko dalam berinvestasi itu tetap ada. Jadi meskipun semua hal yang telah dipaparkan sebelumnya dirasa aman, tetap saja akan ada resiko gagal bayar entah itu karena fraud, kesalahan management, ataupun imbal hasil tidak sesuai yang diharapkan.

Sebaiknya pecah dana ke beberapa instrumen investasi di beberapa perusahaan. Hal itu dilakukan agar agar tidak semua uang calon investor hilang begitu saja apabila terjadi gagal bayar,

"Apabila salah satu instrumen gagal, maka kita masih punya instrument lain yang tetap terjaga kinerjanya dan uang kita masih ada yang aman," ujarnya.

5. Pahami Aturan
Ketua Asosiasi Perencana Keuangan Internasional Indonesia (International Association of Register Financial Consultant/IARFC) Indonesia Aidil Akbar Madjid mengatakan tip lain agar calon investor tidak terjerat kasus gagal bayar adalah memahami aturan yang dikeluarkan OJK.

Salah satunya soal larangan menyerahkan pengelolaan dana investasi pada perencana keuangan. Pasalnya, trading (memperdagangkan) investasi merupakan wewenang individu dan perusahaan yang punya izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Perencana keuangan tidak punya izin seperti itu, jadi bukan kapasitasnya, mereka bukan Manager Investasi (MI) yang perlu izin khusus juga," ungkap Aidil.

6. Tentukan Tujuan Investasi
Selanjutnya, calon investor perlu menentukan tujuan pembelian saham, jika bermain dalam Investasi daham.

Apakah pembelian saham tersebut untuk investasi jangka panjang sebagai investor atau untuk diperdagangkan sebagai trader.

Apabila tujuannya sebagai investor, pilih saham-saham yang berkualitas baik untuk dinikmati hasilnya, entah dalam lima tahun, 10 tahun, atau 20 tahun ke depan.

"Kalau sebagai trader yang tujuannya dagang, beli ketika harga rendah, jual ketika harga tinggi, itu perlu dipelajari kapan waktu untuk masuk ke saham dan saham seperti apa yang harus dipilih," ujarnya.

7. Tentukan Risiko Investasi
Calon investor juga harus mengetahui seperti apa profil mereka, apakah cenderung moderat atau agresif dan siap akan risiko. Menurut Aidil, secara umum sebenarnya investor yang masuk ke instrumen saham paham bahwa mereka sudah siap dengan risiko.

Oleh arena itu, mereka perlu belajar masalah fundamental dan teknikal saham. Dari sisi fundamental, disarankan untuk mempelajari laporan keuangan perusahaan yang sahamnya ingin dibeli.

Misalnya bagaimana asetnya, profit, ekuitas, sektor bisnis perusahaan, hingga risiko dan prospek bisnis perusahaan. Apabila sudah mengerti secara fundamental, saatnya belajar teknikal pergerakan saham.

8. Hindari Saham Perusahaan Baru IPO
Bagi investor pemula, Aidil menyarankan agar jangan membeli saham perusahaan yang baru IPO. Pasalnya., perusahaan biasanya belum punya pergerakan saham yang bagus dan risikonya cukup besar.

Lebih baik, pilihlah saham perusahaan yang sudah jelas jejak bisnis dan sudah cukup lama melantai di bursa saham. Hal ini setidaknya bisa memitigasi calon investor dari risiko kerugian besar.

"Kecuali perusahaan yang baru IPO adalah perusahaan besar, misal yang IPO adalah Facebook. Tapi sekelas Garuda Indonesia saja, setelah IPO harga sahamnya melorot, jadi yang baru IPO ini risiko masih besar. Hanya orang-orang yang berani atau bahkan spekulasi yang berani ambil biasanya," ujarnya.

Sumber : cnnindonesia.com

print  word  pdf

 

Narotama News & Events
Universitas Narotama dan Surabaya TV Lakukan MoU Universitas Narotama dan Surabaya TV Lakukan MoU

15 Januari 2021, 19:54:14

Universitas Narotama (UN) dan Surabaya TV melakukan penandatanganan Nota Kesepakatan Bersama (Memorandum of Understanding / MoU). MoU ini ditandatangani oleh Rektor Universitas Narotama Dr. Ir. H. Sri Wiwoho Mudjanarko, ST, MT, IPM dan Direktur Surabaya TV Drs. Ec. I Nyoman Sudapet, MM pada Rabu, 13 Januari 2021 di Kantor Surabaya TV di Jalan Darmo Permai III Kav. A5 – A8, ....Selengkapnya

print    word   pdf

Public News

Dua Hari PPKM, 163 Perkantoran di Jakarta Ditutup Sementara
16 Januari 2021, 09:00:00

Dua Hari PPKM, 163 Perkantoran di Jakarta Ditutup Sementara Jakarta -- Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi DKI Jakarta melakukan penutupan sementara terhadap 163 perkantoran selama dua hari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejak Senin (11/1) lalu. Penutupan sementara itu .....

Menimbang Untung Rugi Investasi Saham
16 Januari 2021, 09:00:00

Menimbang Untung Rugi Investasi Saham Jakarta -- Investasi saham sedang menjadi primadona saat ini. Aksi pamer portofolio ala Raffi Ahmad, Ari Lasso, hingga Kaesang Pangarep membuat publik penasaran terhadap keuntungan yang bisa diraih dengan berinvestasi .....

139 Ribu Sekolah Ikut Simulasi Asesmen Nasional
10 Januari 2021, 09:00:02

139 Ribu Sekolah Ikut Simulasi Asesmen Nasional Jakarta -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengklaim siap melaksanakan Asesmen Nasional (AN). Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud Totok Suprayitno mengatakan pihaknya telah melakukan simulasi skala besar. "139 ribu [sekolah] ini .....