go green
Recent Issues

China Bantah Gelar Operasi Mata-mata di Australia

China Bantah Gelar Operasi Mata-mata di Australia

27 November 2019, 09:00:28

Pemerintah China menyangkal pemberitaan di Australia yang menyatakan mereka melakukan operasi mata-mata di Negeri Kanguru. Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, mereka tidak pernah berniat mencampuri urusan dalam negeri negara lain.
"Baru-baru ini sejumlah politikus Australia dan media massa mereka menyampaikan pendapat dan pemberitaan yang melibatkan China. Beberapa terlihat panik," kata Geng Shuang dalam pernyataannya seperti dilansir CNN, Selasa (26/11).
"Mereka terus membuat cerita soal mata-mata China yang menyusup ke Australia. Saya pikir bagaimanapun trik dan skenario yang dipaparkan, kebohongan tetap tidak berubah," ujar Geng Shuang.

Meski demikian, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, menyatakan cukup terganggu terhadap terungkapnya dugaan operasi intelijen China di negara itu. Dia bahkan menyatakan tidak bisa mengabaikan atau menganggap remeh hal itu.
"Maka dari itu kita memperkuat aturan hukum dan menambah sumber daya. Saya menganggap hal itu sangat mengganggu," ujar Morrison.
Dalam tayangan 60 Minute garapan stasiun televisi Australia, Nine, dipaparkan upaya intelijen China untuk membina seorang pengusaha keturunan Tionghoa, Bo `Nick` Zhao (32), untuk menjadi agen mereka. Dia dilaporkan dimodali untuk ikut dalam pemilihan anggota parlemen di Melbourne.

Nick mengaku diberi modal sebesar USD679 ribu (sekitar Rp9,5 miliar) untuk kampanye. Namun, Nick mengakui hal itu kepada Organisasi Intelijen dan Keamanan Australia (ASIO) pada tahun lalu.
Nick lantas ditemukan tewas secara misterius di sebuah kamar motel di Australia pada Maret lalu. Kepala ASIO, Mike Burgess, menyatakan kasus Nick menjadi perhatian serius dan mengatakan mereka sedang menyelidikinya, sebab sampai saat ini polisi belum mengetahui penyebab kematian Nick.

Di samping itu, seseorang yang diduga mata-mata China, Wang `William` Liqiang, dilaporkan membelot dan meminta perlindungan kepada pemerintah Australia. Dia disebut memberikan sejumlah informasi penting terkait operasi intelijen Negeri Tirai Bambu di Hong Kong, Taiwan dan negara lain.
Wang mengaku dia ditugaskan untuk melakukan operasi penyusupan dan mengacaukan di Hong Kong atau China. Dia mengatakan China mempunyai sejumlah perusahaan yang digunakan untuk membiayai operasi mata-mata seperti pengintaian, membuat profil orang-orang yang dianggap musuh negara, dan mempengaruhi media massa.

Wang dilaporkan bermukim di Sidney bersama istri dan anaknya yang masih bayi dengan visa turis. Dia saat ini dilaporkan mengajukan permintaan suaka politik.
Wang mengaku tidak bisa kembali ke kampung halamannya karena bakal dihukum mati.
"Kalau saya pulang, saya bakal mati," kata Wang.




Sumber: CnnIndonesia

print  word  pdf

 

Narotama News & Events
Prodi Teknik Sipil Gelar Balsa Bridge Competition Tingkat Siswa SMK dan SMA se-Jawa Timur Prodi Teknik Sipil Gelar Balsa Bridge Competition Tingkat Siswa SMK dan SMA se-Jawa Timur

24 Februari 2020, 01:50:17

Program studi Teknik Sipil (Fakultas Teknik) Universitas Narotama Surabaya, Jumat (21/2/2020) gelar Balsa Bridge Competition yang diikuti 40 tim sekolah SMA dan SMK se Jawa Timur. Kompetisi Balsa Bridge ini merupakan satu diantara kegiatan dari serangkaian acara yang digelar tahunan Civil Nation 2020. Liliana Hannes, sie acara Balsa Bridge Competition Universitas Narotama Surabaya menyampaikan bahwa kompetisi Balsa Bridge memang sengaja dipilih ....Selengkapnya

print    word   pdf

Public News

Data Sensus Penduduk Online 2020 BPS Bisa Bocor
23 Februari 2020, 09:00:29

Data Sensus Penduduk Online 2020 BPS Bisa Bocor Jakarta, Pakar keamanan siber dari CISSReC Doktor Pratama Persadha menyatakan Badan Pusat Statistik (BPS) wajib menjaga keamanan data Sensus Penduduk 2020, mengingat ada potensi terjadi kebocoran data seperti di Ekuador, .....