go green
Recent Issues

Dinkes: Bayi Elsa di Banyuasin Diduga Meninggal Akibat ISPA

Dinkes: Bayi Elsa di Banyuasin Diduga Meninggal Akibat ISPA

18 September 2019, 09:00:26

Jakarta -- Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, menyebut bayi 4 bulan, Elsa Pitaloka, meninggal akibat infeksi salurah pernapasan akut (ISPA). Namun belum bisa dipastikan ISPA yang diderita Elsa akibat kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) atau bukan.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuasin Masagus Hakim mengatakan pihaknya sudah memastikan ke RS Ar-Rasyid Palembang yang menjadi tempat meninggalnya Elsa.

"Penyebab pasti kematian bayi sampai sekarang rumah sakit belum mengeluarkan [diagnosa] tapi kita sudah ada perkiraan. Dari hasil wawancara ke petugas yang menangani, bahwa terkena gangguan pernapasan akibat ISPA," ujar Hakim, Senin (16/9).

Menurut hakim selain ISPA Elsa pun menderita pneumonia. Gangguan pernapasan yang diderita Elsa belum diketahui penyebabnya. Kualitas udara di Banyuasin seperti yang dilaporkan Dinas Lingkungan Hidup masih di kategori sedang dan belum membahayakan jiwa.

"Tapi berdasarkan laporan anak buah saya tadi keadaan rumahnya permanen, itu jadi kemungkinan dari lingkungan juga enggak. Makanya kita belum tahu penyebab pastinya," kata dia.

Bayi Elsa telah dimakamkan di tempat pemakaman umum Dusun II Desa Talang Buluh, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin pada Senin (16/9) pagi. Dinkes Banyuasin memberikan santunan atas meninggalnya buah hati pasangan Ita Septiana (27) dan Ngadirun (34) ini.


Atas meninggalnya balita dengan dugaan ISPA ini Dinkes Banyuasin akan melakukan pemeriksaan khusus terhadap para balita yang terpapar kabut asap untuk mencegah jatuhnya korban lanjutan.

"Kita juga imbau ibu untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, jangan bawa anak ke luar rumah kalau tidak mendesak. Rajin kasih ASI, minuman hangat, dan makanan bergizi," ujar dia.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Lesty Nuraini berujar, kabut asap yang terjadi akibat karhutla bukan faktor utama penyebab ISPA. Penyebab utama ISPA adalah bakteri atau virus. Sedangkan kabut asap bisa memperparah penderita ISPA, khususnya anak di bawah umur lima tahun (balita) yang sangat sensitif.


"ISPA tetap ada meskipun tidak ada karhutla. Namun jumlah penderita ISPA bisa meningkat dengan adanya kabut asap akibat karhutla," kata dia.

Sumber : cnnindonesia.com

print  word  pdf

 

Narotama News & Events
Fakultas Hukum UNNAR Gelar Diskusi Publik Tentang Perubahan UU KPK Fakultas Hukum UNNAR Gelar Diskusi Publik Tentang Perubahan UU KPK

21 Oktober 2019, 03:35:09

Fakultas Hukum Universitas Narotama (UNNAR) mengadakan Diskusi Publik dalam rangka uji kritis terhadap UU KPK, Sabtu (19/10/2019). Beberapa catatan kritis disajikan oleh 3 pakar dari Fakultas Hukum UNNAR, yaitu Dr. Rusdianto Sesung, SH, MH, Dr. H. Sunarno Edy Wibowo, SH, M.Hum, dan Dr. Moh. Saleh, SH, MH, dengan moderator Dr. Nynda Fatmawati Octarina, SH, MH. Rusdianto mengatakan universitas harus menjadi ....Selengkapnya

print    word   pdf

Public News

Densus 88 Tangkap Petani Kopi Lampung Anggota JAD
21 Oktober 2019, 09:00:34

Densus 88 Tangkap Petani Kopi Lampung Anggota JAD Jakarta -- Detasemen Khusus 88/Antiteror Polri menangkap seorang terduga teroris di Pesawaran, Lampung, pukul 17.30 WIB, Sabtu (19/10). Terduga teroris berinisial LH (41) ini merupakan buronan kasus terorisme tahun lalu. "Pekerjaannya .....

Server BMKG Diretas
17 Oktober 2019, 09:00:16

Server BMKG Diretas

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan dan Geofisika (BMKG) menyebut server yang menangani data kualitas udara PM10 diretas. Peretasan ini menyebabkan tidak berfungsinya pengiriman otomatis data polutan PM10 di situs dan .....