go green
Recent Issues

Embun Es Bandung Jadi Ancaman Buruh Pemetik Daun Teh

Embun Es Bandung Jadi Ancaman Buruh Pemetik Daun Teh

21 Juli 2019, 09:00:10

Bandung -- Fenomena embun yang membeku jadi es akibat suhu ekstrem melanda Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung.

Selain buliran yang menarik, embun yang membeku itu justru menjadi ancaman bagi buruh petik teh. Kawasan Kertasari yang berada di ketinggian 1.644 mdpl itu dikenal sebagai salah satu wilayah perkebunan teh di kawasan Bandung.

Salah satu mandor perkebunan teh di Desa Tarumajaya, Kertasari, Igin (64) mengatakan suhu ekstrem akibat musim peralihan mengakibatkan pucuk teh cenderung mengering dan menghitam.

"Biasanya masih dipetik, tapi nanti disortir. Kita ambil yang bisa dipanen karena tidak semuanya menghitam," kata Igin saat ditemui Kamis (18/7).

Perusahaan perkebunan teh membutuhkan pucuk daun teh yang bagus untuk kemudian dikelola di pabrik pengolahan. Cuaca ekstrem belakangan telah berdampak buruk bagi para buruh petik karena penghasilan mereka rentan berkurang akibat sortiran yang lebih banyak tersebut.

Salah satunya Uga, 46, yang ditemui saat sedang melakukan pemetikan daun teh di salah satu lokasi sekitar pukul 06.00 WIB kemarin.

"Kalau pucuk daunnya kering dan hitam seperti ini, pendapatan jadi berkurang," katanya.

Uga tak menyebutkan berapa besar kerugian yang ia tanggung sepanjang musim peralihan ini. Namun yang pasti, katanya, di saat-saat seperti ini pendapatannya selalu menurun drastis.

"Biasanya satu hari bisa dapat 100 (kilogram) pucuk, tapi kalau sekarang 30 (kilogram) juga sudah untung," ujarnya.

Harga yang didapat buruh bervariatif tergantung kualitas dan mutu pucuk teh yang dipanen. Nilai teh 60-65 dihargai Rp425 per kilogramnya. Sedangkan nilai 55 per kilogramnya Rp200, dan mutu rendah dengan nilai 51 sekitar Rp40.

Saat disambangi kemarin pagi buta, suhu di kawasan kertasari yang terpantau lewat aplikasi ada di titik 9 derajat celsius. Walhasil, mudah sekali mendapati embun-embun yang telah membeku menjadi es di kawasan Desa Tarumajaya tersebut.

Igin mengatakan kondisi cuaca ekstrem di wilayah itu sudah terjadi setidaknya selama sepekan terakhir.

"Dinginnya terasa berbeda dari biasanya. Kalau sekarang [suhu pada malam hari] sampai 0 derajat celcius, dilihat dari termometer di pabrik," kata Igin.

Sebelumnya, pada Selasa lalu Peneliti Cuaca dan Iklim BMKG Provinsi Jawa Barat Muhamad Iid Mujtahiddin mengatakan, "Suhu yang dingin dalam beberapa hari terakhir di Bandung Raya maupun secara umum di Jawa Barat merupakan fenomena yang biasa atau wajar yang menandakan datangnya periode musim kemarau."

Untuk Jawa Barat, kata dia, periode musim kemarau masuk Juni dengan terlebih dahulu masuk di wilayah sekitar pantura, kemudian bergerak ke arah selatan.

Pada saat musim kemarau angin bertiup yang melewati Jawa Barat, merupakan angin pasat tenggara atau angin timuran dari arah Benua Australia dan pada bulan Juli, Agustus, September di Australia sedang mengalami puncak musim dingin. Sehingga suhunya relatif lebih dingin dibandingkan musim penghujan.

Iid menjelaskan kondisi saat ini dipengaruhi juga dengan masih adanya kelembapan pada ketinggian permukaan hingga 1,5 km di atas permukaan laut relatif lembap sehingga pada sore hari masih terlihat adanya pembentukan awan.

BMKG memprediksi puncak musim kemarau adalah Agustus-September dengan karakteristik suhu udara dingin dan kering.

Sumber : cnnindonesia.com

print  word  pdf

 

Narotama News & Events
Fakultas Teknik Gelar Workshop `International Higher Education and Research` Fakultas Teknik Gelar Workshop `International Higher Education and Research`

21 Agustus 2019, 07:45:57

Fakultas Teknik (FT) Universitas Narotama (UNNAR) menggelar Workshop `International Higher Education and Research` : Simposium Cendikia Kelas Dunia dengan menghadirkan narasumber yaitu Dr. Bambang Trigunarsyah Suhariadi, BSc, MT, Ph.D (RMIT University, Australia) dan Dr. Dani Harmanto, C.Eng, MTED, (University of Derby, UK), Rabu (21/8/2019) di Ruang Rapat Gedung D. Workshop ini dibuka oleh Dekan FT Dr. Ir. Koespiadi, MT dengan ....Selengkapnya

print    word   pdf

Public News

Tak Bisa Gaji Staf, Presiden Palestina Pecat Semua Penasihat
22 Agustus 2019, 09:00:01

Tak Bisa Gaji Staf, Presiden Palestina Pecat Semua Penasihat

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, dilaporkan memecat semua penasihatnya lantaran tak sanggup menggaji pegawai. Kantor Kepresidenan Palestina tidak menjelaskan jumlah penasihat presiden yang diputus kontrak kerjanya. Kantor tersebut hanya merujuk pada .....