go green
Recent Issues

Anak Pengungsi Rohingya di Medan Tetap Sekolah Walau Tinggal di Penampungan

Anak Pengungsi Rohingya di Medan Tetap Sekolah Walau Tinggal di Penampungan

12 Juli 2019, 09:00:41

Status sebagai pengungsi tak membuat warga Rohingya, abai terhadap pendidikan. Di Medan, Sumatera Utara (Sumut), para pengungsi asal Myanmar itu menyekolahkan anak-anaknya dengan biaya sendiri.

Siti Noor Haslina (13) merupakan salah seorang anak pengungsi yang tengah mengecap pendidikan formal. Dia tengah duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar (SD) Cerdas, sekolah swasta yang berada tak jauh dari penampungan. Siti baru saja menerima rapor tengah semester.
"Di kelas saya ada 14 murid. Saya dapat rangking tujuh. Saya sangat senang," kata Siti kepada wartawan di penampungan, Jalan Flamboyan, Medan, Rabu (10/7/2019).

Siti bersama adiknya, Muhammad Anwar (12) menyukai aktivitas di sekolah. Mereka menyatakan bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Ada 12 anak pengungsi lainnya yang juga bersekolah di SD Cerdas.
"Saya senang pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, tentang magnet, gaya gravitasi, dan pelajaran agama. Banyak lagi. Saya senang guru dan kawan-kawan. Di kelas enam, saya sendiri yang pengungsi," katanya.

Siti dan Anwar fasih berbahasa Indonesia. Pengucapan bahasa Indonesia Siti dan Anwar lebih bagus dibanding ayahnya, Abdul Muthalib (45) yang berbahasa Indonesia dengan dialek Melayu. Maklum, Abdul belasan tahun tinggal di Malaysia, Siti pun lahir di Negeri Jiran.

Muthalib menyatakan, walau situasi sangat sulit, dia berkeras menyekolahkan anak-anaknya. Setiap bulan dia mengeluarkan Rp 100 ribu untuk uang sekolah masing-masing anak. Belum biaya lain, dan juga uang jajan. Dia terpaksa mengeluarkan biaya sendiri sebab biaya sekolah tak ditanggung lembaga internasional yang memberikan biaya jatah hidup mereka.
"Anak-anak harus sekolah. Jika tidak sekolah mau bagaimana? Ini bukan negara sendiri. Kalau saya mati bagaimana? Mereka harus belajar, untuk masa nanti," kata Muthalib yang menyeberang via laut dari Malaysia ke Indonesia tahun 2011.

Muthalib menyatakan, setiap bulan dia mendapat jatah hidup sebesar Rp 1,2 juta, dan anak-anak mendapat Rp 500 ribu per orang. Uang itu untuk kepentingan makan dan semua keperluan, kecuali penginapan. Status sebagai pengungsi tak membolehkannya untuk bekerja, sebab itu dia mengoptimalkan apa yang ada.

Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Medan, Viktor Manurung menyatakan, menyekolahkan anak merupakan pilihan bagi pengungsi itu sendiri. Sesuai dengan ketentuan yang ada, Rudenim memfasilitasi pengungsi dengan pendidikan yang bersifat home-schoolling, bukan sekolah formal.
"Guru didatangkan untuk belajar membaca, atau belajar bahasa Indonesia. Bisa juga keterampilan, seperti pangkas rambut," kata Viktor.

Saat ini 2.089 pengungsi dari berbagai negara yang berada di bawah pengawasan Rudenim Medan yang tersebar di 20 titik di Sumut. Dari jumlah itu, kata Viktor, sebagian di antaranya diketahui mengikuti pendidikan SD, dan ada juga yang SMP.






Sumber: Detik.Com

print  word  pdf

 

Narotama News & Events
SMK Pawiyatan Surabaya Lakukan Kunjungan Industri ke Universitas Narotama SMK Pawiyatan Surabaya Lakukan Kunjungan Industri ke Universitas Narotama

23 Agustus 2019, 06:36:35

Sebanyak 96 siswa dan 6 guru pendamping Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) “Pawiyatan” Surabaya melakukan Kunjungan Industri ke kampus Universitas Narotama (UNNAR) pada Kamis, 22 Agustus 2019. Kedatangan rombongan SMK Pawiyatan disambut langsung oleh Kaprodi Sistem Komputer (FIK) Slamet Winardi, ST, MM dan Direktur Marketing, Qausya Faviandhani, SE, MM di Plaza Gedung E UNNAR. Kegiatan tersebut dimanfaatkan oleh para siswa untuk ....Selengkapnya

print    word   pdf

Public News