go green
Recent Issues

WHO Daftarkan Vaksin Polio Bio Farma untuk Penggunaan Darurat

WHO Daftarkan Vaksin Polio Bio Farma untuk Penggunaan Darurat

19 November 2020, 09:00:00

Jakarta -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendaftarkan vaksin baru polio produksi Bio Farma sebagai penggunaan darurat (emergency use listing/EUL) untuk kebutuhan berbagai negara.

Penggunaan darurat vaksin bernama nOPV2 ini untuk mengatasi meningkatnya kasus strain polio yang diturunkan dari vaksin di sejumlah negara Afrika dan Mediterania Timur.

Juru Bicara #SatgasCovid19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Reisa Broto Asmoro mengungkap pendaftaran vaksin oleh WHO ini sebagai prestasi untuk Indonesia. Teknologi vaksin yang dikembangkan di Indonesia memiliki peran bagi dunia.

"WHO telah resmi mendaftarkan vaksin polio terbaru produksi Bio Farma dengan sebutan nPOV2 ke dalam daftar penggunaan darurat untuk digunakan di berbagai belahan dunia. Terutama untuk membantu melenyapkan polio di negara-negara Afrika," ujar Reisa dalam diskusi bertema Perhitungan Rugi-Rugi Kena Penyakit di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN), Senin (16/11).

Merujuk situs WHO, vaksin produksi Bio Farma ini untuk mengatasi meningkatnya kasus strain polio yang diturunkan dari vaksin di sejumlah negara Afrika dan Mediterania Timur.

Beberapa negara di wilayah Pasifik Barat dan Asia Tenggara WHO juga terkena dampak wabah ini.

Mengatasi Kedaruratan

Wabah polio beredar di saat kemajuan pemberantasan polio mencapai 99,9 persen dalam 30 tahun terakhir. Tetapi langkah terakhir pemberantasan penyakit ini mengalami kesulitan karena virus polio justru diturunkan dari vaksin (cVDPV) yang beredar.

Kasus cVDPV terjadi jika strain virus polio yang dilemahkan dalam vaksin polio oral (OPV) kurang diimunisasi untuk waktu yang lama. Virus yang melemah dapat berpindah antarindividu dan seiring waktu secara genetik kembali ke bentuk yang dapat menyebabkan kelumpuhan.

CVDPV tipe 2 saat ini adalah bentuk paling umum dari virus yang diturunkan dari vaksin.

Sedangkan penggunaan darurat (EUL) sendiri merupakan prosedur kesesuaian produk kesehatan yang belum memiliki lisensi selama keadaan darurat kesehatan. Tujuan prosedur ini agar obat, vaksin, dan diagnostik tersedia dalam waktu cepat untuk mengatasi kedaruratan.

Penggunaan prosedur ini mempertimbangkan ancaman atas kedaruratan terhadap manfaat yang akan diperoleh dari penggunaan produk berdasarkan bukti yang kuat.

Prosedur tersebut diperkenalkan selama wabah Ebola Afrika Barat tahun 2014-2016, ketika beberapa diagnostik Ebola menerima daftar penggunaan darurat. Sejak itu, banyak diagnosis Covid-19 juga telah terdaftar. NOPV2 adalah daftar pertama untuk vaksin.

Sumber : cnnindonesia.com

print  word  pdf

 

Narotama News & Events
Mahasiswa S2 Teknik Sipil Universitas Narotama Sebagai Penata Teknik Perbaikan Jalan Raya Nasional PPK 4.5 Mahasiswa S2 Teknik Sipil Universitas Narotama Sebagai Penata Teknik Perbaikan Jalan Raya Nasional PPK 4.5

15 Januari 2021, 12:43:55

Andrias Eko Adi Sutrisno, mahasiswa S2 Teknik Sipil – Fakultas Teknik Univesitas Narotama mendapat kepercayaan sebagai pengawas pelaksanaan pekerjaan jalan dari PPK 4.5 Balai Besar pelaksanaan pekerjaan jalan raya nasional Jawa Timur – Bali. Pekerjaan perbaikan jalan raya Pantura yang dimulai bulan Januari-April 2021 atau selama 4 bulan. “Pekerjaan dimulai dari perbaikan struktur tanah, rabat dan rigid. Dimulai dari ....Selengkapnya

print    word   pdf

Public News

Tip Agar Tak Tertipu Penipuan Lelang
17 Januari 2021, 09:00:00

Tip Agar Tak Tertipu Penipuan Lelang Jakarta -- Kementerian Keuangan mengingatkan masyarakat agar tak tertipu dengan penipuan lelang. Sebab, sejauh ini masih ada beberapa modus penipuan lelang yang mengatasnamakan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan. Direktur .....

139 Ribu Sekolah Ikut Simulasi Asesmen Nasional
10 Januari 2021, 09:00:02

139 Ribu Sekolah Ikut Simulasi Asesmen Nasional Jakarta -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengklaim siap melaksanakan Asesmen Nasional (AN). Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud Totok Suprayitno mengatakan pihaknya telah melakukan simulasi skala besar. "139 ribu [sekolah] ini .....