Jerat Mematikan Bunga Pinjaman Online
26 Juni 2019, 09:00:14 Dilihat: 252x

Jakarta -- Yesi Lia (25 tahun) mungkin tak pernah menyangka pinjaman online bisa menjadi bumerang bagi kariernya. Persoalan utang yang biasanya menjadi masalah pribadi dan tak diumbar, tiba-tiba diketahui nyaris seluruh koleganya.
Dia dikejar-kejar penagih, bahkan dipermalukan bukan main karena seluruh kontak di ponselnya, termasuk bos dan rekan kerjanya, ikut menerima pemberitahuan soal keterlambatan pembayaran utang.
Tak sampai di situ, penagih pinjaman online menyebarkan foto-foto Lia, demikian ia biasa disapa, ke seluruh kontak melalui aplikasi pesan instan WhatsApp.
"Itu utangnya Rp602 ribu, ditransfer Rp420 ribu. Tenor seminggu. Saya terlambat dua hari, karena memang income saya terlambat masuk. Ampun, saya malu banget. Pengalaman jelek, saya kapok," Lia menuturkan pengalaman buruknya.
Sebelum insiden itu terjadi, tenaga pemasar mobil merek asal Jepang itu memang akrab dengan pinjaman online. Malah, ia memiliki beberapa aplikasi untuk berutang.
"Karena kepepet, terus mudah juga (prosesnya) cuma kasih KTP. Eh jadi banyak," ujar Lia.
Lia mengaku mengajukan empat aplikasi pinjaman online. Keempatnya memberi penawaran berbeda-beda.
"Bunganya memang besar tapi beda-beda. Ada yang pinjam Rp800 ribu, saya terimanya sekitar Rp500 ribu-an, dengan tenor 14 hari. Ada yang pinjam Rp500 ribu, balikin-nya hampir Rp1 juta," kata Lia.
Cerita berbeda datang dari Faisal (41 tahun), seorang sopir ojek online. Ia mengaku sudah tiga kali mengajukan pinjaman online dan nyaris tak bermasalah karena selalu tepat waktu saat membayar. Karena rekam jejaknya yang baik itu, tak jarang ia mendapat tawaran lagi dan lagi.
"Saya pinjam biasanya Rp200 ribu. Paling banyak pernah Rp300 ribu. Buat modal beli bensin dan makan. Tenornya biasa ambil seminggu atau 10 hari paling lama. Tapi, lama kelamaan saya baru sadar, kok saya rugi banget ya kembalikan duitnya bisa Rp300 ribu sampai Rp450 ribu," ujarnya.
Apalagi, ia melanjutkan sering mendengar cerita miring rekan-rekannya yang dibuat malu penagih pinjaman online ketika terlambat membayar.
"Daripada gara-gara uang segitu, saya malu, saya jadi takut. Mending sekalian tidak usah, saya setop deh," kata Faisal.
Kisah-kisah soal jerat bunga pinjaman online memang akrab di telinga masyarakat Indonesia setidaknya dalam dua tahun belakangan.
Teknologi digital menghadirkan gelombang disrupsi di berbagai lini, tak terkecuali soal pinjam-meminjam. Produk-produk keuangan seperti utang yang dahulu menjadi garapan eksklusif institusi finansial seperti bank atau multifinance, kini mudah ditemukan seiring dengan menjamurnya teknologi finansial atau fintech.
Sejak kemunculannya pada 2016, sektor ini terus berkembang dan masih menjadi primadona hingga saat ini.
Apalagi, fintech juga mampu menyederhanakan proses transaksi. Tak perlu repot-repot pergi ke bank dan membawa segala persyaratan untuk sekadar membuka rekening, melakukan pembayaran, atau berutang.
Karena alasan tersebut, sektor fintech bergerak sangat dinamis. Saking dinamisnya, tak jarang inovasi membelakangi regulasi. Bahkan, dua wasit industri ini, Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengaku tak ingin terlalu banyak aturan dan berjanji mengawal perkembangan fintech dengan berbagai kebijakan.
Berdasarkan rangkuman CNNIndonesia.com, setidaknya terdapat empat aturan main terkait fintech, seperti terlihat pada tabel di bawah.
Sektor fintech yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain melahirkan berbagai aturan ini. BI dan OJK pun mengklasifikasikan fintech berdasarkan jenis usahanya.
Pertama, Crowdfunding dan Peer to Peer (P2P) Lending. Fintech ini melayani pertemuan antara pencari pinjaman dengan pemberi pinjaman dalam satu platform. Kedua, Payment, Clearing, dan Settlement. Fintech ini memberikan layanan sistem pembayaran baik yang diselenggarakan oleh perbankan maupun BI.
Ketiga, market aggregator, portal yang mengoleksi berbagai informasi layanan keuangan untuk disajikan kepada masyarakat, dan keempat, manajemen risiko dan investasi.
Secara sederhana, fintech jenis ini merupakan perencana keuangan digital yang akan membantu masyarakat mengetahui situasi, serta perencanaan keuangan secara mudah.
Dari sekian jenis fintech tersebut, P2P Lending jadi yang paling disoroti belakangan ini. Bisnis cash loan sendiri menjadi yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat. Bahkan, ramai praktik sejenis dari fintech abal-abal alias tidak berizin kerap berujung masalah.
Itulah kenapa pada awal perkembangannya, sempat muncul kasus bunuh diri karena korban tak sanggup membayar pinjaman online.
Fintech P2P Lending secara tak langsung menghimpun dana masyarakat, kemudian menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman atau banyak dikenal sebagai pinjaman online.
Fungsi intermediary (perantara) tersebut mirip praktik bank umum. Hanya saja, fintech dilarang menghimpun dana dari masyarakat secara langsung dan mengendapkannya lebih dari dua hari. Itu pun, dana yang dihimpun hanya boleh diendapkan lewat escrow account.
Sumber : cnnindonesia.com
Share:

UN Videos

Java Coffee Culture and Festival Peneleh 2024
Rapat Terbuka Senat dalam rangka Wisuda Sarjana ke - 56 dan Magister ke - 44
Wisuda Sarjana Ke 54 dan Magister Ke 42 Universitas Narotama

UN Cooperation

De Montfort Leicester University Alexandria University Chiang mai university Derby University
 
Essex I Coe Rel UTHM ICOGOIA University Malaysia PAHANG Universiti Utara Malaysia
 
National University Kaohsiung Taiwan Politeknik Sultan Mizan Zainal Abidin Prince Sultan University Quest Nawab Shah Pakistan Universiti Teknologi MARA
 
Universiti Kebangsaan Malaysia Universiti Malaysia Kelantan Universiti Malaysia Perlis Universiti Zainal Abidin Universiti Sains Malaysia
 
Universiti Pendidikan Sultan Idris Erasmus

 

INTAKINDO PT. Aria Jasa Konsultan Bumi Harmoni Indoguna Cakra Buana Consultan Ciria Jasa Consultant
 
Internasional Peneliti Sosial Ekonomi Teknologi PT. Jasa Raharja NOKIA INKINDO MASKA
 
Surabaya TV PT. Amythas General Consultant
 
       

 

Perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia IT Telkom Surabaya Institut Aditama Surabaya Institut Teknologi Nasional Malang
 
Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya Politeknik Negeri Malang Universitas Pakuan Universitas Nasional Kualita Pendidikan Indonesia
 
Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Politeknik Negeri Bali Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin Pasuruan
 
Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul `Ula Nganjuk Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Al Anwar Mojokerto STIE NU Trate Gresik Sekolah Tingi Ilmu Ekonomi Widya Gama Lumajang Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yapan Surabaya
 
STIE Pemuda STIKOSA STKIP PGRI Bangkalan STKIP PGRI Jombang STKIP PGRI Sidoarjo
 
STT Pomosda Nganjuk UINSA Universitas Mercu Buana Universitas Airlangga Universitas Darul `Ulum Jombang
 
Universitas Negeri Surabaya Universitas Brawijaya Malang Teknik Sipil Universitas Negeri Surabaya Universitas PGRI Adi Buana Surabaya UNIPDU
 
UNISLA UNISMA Universitas 45 Bekasi Universitas Dr.Soetomo UNITRI
 
Universitas 45 Surabaya Universitas Bondowoso Universitas Islam Madura Pamekasan Universitas Jember Universitas Maarif Hasyim Latif
 
Universitas Madura Universitas Merdeka Surabaya Universitas Bina Darma Universitas Wijaya Putra Universitas Padjajaran
 
Universitas Muhammadiyah Malang Universitas Muhammadiyah Papua Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Universitas Muhammadiyah Surabaya Universitas Negeri Malang
 
Universitas Islam Raden Rahmat Universitas Widyagama Malang Universitas Pembangunan Nasional Veteran Surabaya UWIKA Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
 
UNIVERSITAS SUNAN BONANG TUBAN Universitas 17 Agustus Surabaya UNUGIRI Bojonegoro Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
 
Akademi Pariwisata Majapahit  

 

Copyright (c) 2025 by UN | Universitas Narotama, All Rights Reserved.