Narotama
Keberadaan Perjuangan dan Kesejarahannya

Sumber-sumber sejarah


Sumber sejarah yang berhubungan dengan tokoh Narotama yaitu bersumber tulisan kuna (epigrafis), dalam bentuk prasasti pucangan atau prasasti Calcutta (karena disimpan di museum Calcutta), bertarikh 963 Saka (1042 M). Prasasti ini terdiri dari dua bagian yaitu: bagian pertama ditulis dengan bahasa Jawa Kuna, dan bagian kedua dengan bahasa Sansekerta. Pada bagian Jawa Kuna Narotama tercantum sebanyak 3 kali, sedang pada bagian berbahasa Sansekerta disebutkan sekali. Teks  berbahasa Jawa  Kuna sebagai berikut
(terjemahan):

  1. Turunlah titah baginda Maharaja Rakai Halu Lokeswara Darmawangsa Airlangga, diterima oleh Rakryan Kanuruhan pu Darmamurti Narotama Janasura yangmemerintahkan supaya daerah pucangan, wilayahBerahem, di Capuri tanah milik keluarga orang putiham.

 

  1. Beliau hidup dalam hutan rimba di lereng gunung. Dia berteman dan berkata-kata dengan para petapa, yang suci tingkah lakunya. Dia diiringkan hamba sahayanya yang bertujuan dan berkeyakinan sama. Hamba-hamba itu bersedia membuktikan bukti seiianya kepada Sri Baginda Maharaja tanpa diperlakukan baik-baik. Tuan Narotama namanya.
  2. Sri Baginda Maharaja bertindak sebagai seorang pahlavvan, Sri Baginda Maharaja dengan rakrvan kanuruhan tuan Narotama.

Bagian berbahasa Sansekerta (terjemahan):

  1. Tiada berapa lama sesudah itu ibukota habis terbakar menjadi abu. Tanpa ditemani oleh hamba pesuruh, namun ditemani hanya oleh Narotama, pergilah beliau masuk ke hutan rimba.

Dari pemberitaan  prasasti Pucangan di atas terdapat struktur jabatan kerajaan, yaitu maharaja, sebagai pejabat tertinggi. Perintah-perintahnya diterima oleh rakryan mahamantri I hino, dan dilaksanakan oleh rakryan kanuruhan yang diduduki oleh Narotama. Dari pemberitaan tahun 1042 M. Narotama menjabat sebagai rakryan kanuruhan. Jabatan kanuruhan dalam birokrasi Kerajaan Airlangga berada pada peringkat ke 3, setelah maharaja dan mahamantri katrini.