AS-China Perang Dagang, Produsen Tekstil RI Malah Raup Cuan

Jakarta -- Produsen tekstil Indonesia, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex berhasil meraup untung dari perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China.

Hingga kuartal I 2019, penjualan produk Sritex ke AS tumbuh dua kali lipat lebih dari US$9,4 juta menjadi US$20,7 juta atau setara Rp298 miliar (mengacu kurs Rp14.400 per dolar AS).

Sekretaris Perusahaan Sritex Welly Salam mengatakan perseroan menargetkan nominal penjualan ekspor ke AS bertambah sebesar US$25 juta-US$30 juta setara Rp360 miliar-Rp432 miliar sepanjang 2019. Target itu tumbuh 43 persen-51,72 persen dibanding posisi penjualan ke AS sepanjang 2018 sebesar US$58 juta.

Ia mengungkapkan target itu tidak berbeda dengan pertumbuhan penjualan ke AS tahun lalu yang sekitar 50 persen. Penjualan ke AS melonjak sejak 2018 sebagai imbas perang dagang AS-China.

"Jadi konsumennya sudah ancang-ancang (persiapan). Biasanya (sebelum perang dagang) paling market (pasar) AS tumbuhnya 10 persen-15 persen," paparnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (19/6).

Pada kuartal I 2019, perusahaan asal Solo, Jawa Tengah ini mencatat porsi ekspor ke pasar Amerika sebesar 7 persen. Angka itu setara dengan ekspor ke negara-negara di Uni Emirat Arab, Afrika, dan Australia. Namun,masih di bawah ekspor ke Eropa sebesar 9 persen, Asia sebesar 37 persen, dan pasar domestik sebesar 40 persen.

Ia mengatakan produk ekspor Sritex ke AS meliputi benang dan pakaian jadi. Perseroan menjadi pemasok produk untuk perusahaan ternama seperti Disney dan Walmart.

Wakil Presiden Direktur Sritex Iwan Kurniawan Lukminto meyakini kondisi perang dagang ini akan menggenjot pertumbuhan penjualan perseroan ke AS.

"Sekarang ini masih ada policy (kebijakan) yang belum final untuk kategori tekstil, yang trade war ini sudah final kategori non tekstil, sedangkan yang tekstil akan segera ditingkatkan," katanya, Selasa (19/6).

Tahun ini, perseroan menargetkan porsi ekspor menjadi 62 persen-65 persen dari total penjualan. Hingga kuartal I 2019, porsi ekspor telah mencapai 60 persen.

Selain AS, Welly mengatakan perseroan akan menggenjot ekspor di beberapa negara lain, seperti Jepang dan Eropa. Sritex juga akan membidik peningkatan ekspor di kawasan Afrika dengan memanfaatkan kerja sama antara pemerintah (government to government/ g to g).

Tahun ini, perseroan menargetkan kenaikan penjualan sebesar 10 persen-15 persen. Tahun lalu, perseroan berhasil membukukan penjualan sebesar US$1,03 miliar. Dengan target pertumbuhan penjualan 10 persen-15 persen, maka perseroan mematok target penjualan hingga US$1,13 miliar-US$1,18 miliar. Sementara hingga kuartal I 2019, perseroan berhasil mengantongi penjualan sebesar US$316,8 juta.

"Kalau melihat target kami kenaikan penjualan total 10 persen-15 persen, tentunya angka US$25-US$30 juta (kenaikan penjualan AS) itu tidak akan meng-cover target pertumbuhan kami, jadi akan di-support (didukung) negara lain," ujarnya.

Sumber : cnnindonesia.com