go green
Recent Issues

Polisi Ringkus Penjual Kulit Harimau Sumatra di Langkat

Polisi Ringkus Penjual Kulit Harimau Sumatra di Langkat

08 Juli 2019, 09:00:19

Jakarta -- Petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) meringkus seorang petani berinisial P (27). Pria ini menjual bagian tubuh harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) seperti kulit dan tengkorak hewan yang dilindungi itu.

"Pelaku ditangkap petugas TNGL di Simpang Sogong, Marike, Kutambaru, Langkat, Senin (1/7) malam lalu," kata Kepala Seksi Wilayah I Balai Gakkum LHK Sumut-Aceh, Haluanto Ginting di Medan, Jumat (5/7).

Haluanto mengatakan penangkapan berawal saat petugas mendapat informasi terkait adanya seseorang yang menjual kulit harimau dalam bentuk kepingan. Atas dasar informasi itu, petugas lantas menyamar menjadi pembeli dan berpura-pura akan membeli kulit harimau dari tersangka.

"Setelah ditangkap, esok harinya, Selasa, TNGL menyerahkan tersangka dan barang bukti kepada kami," jelasnya.

Dari operasi penyamaran itu, petugas berhasil mengamankan pelaku dengan barang bukti berupa 2 lembar kulit harimau berukuran besar, selembar kulit harimau berukuran kecil, sebilah belati dan satu unit telepon genggam dan satu tengkorak yang diduga tengkorak harimau Sumatera.

"Dari pemeriksaan awal terhadap tersangka, bagian tubuh harimau itu merupakan warisan keluarga karena sudah ada sejak kecil. Jadi dia mengaku kulit ini milik kakeknya. Dan sudah dikuasainya sejak 2013 lalu," jelas Halaunto.

Menurutnya, petugas menduga kulit harimau itu berasal dari harimau yang dijerat di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Dugaan itu didasarkan pada lokasi kediaman keluarga tersangka yang berdekatan dengan taman nasional itu.

"P selama ini menjual potongan kulit harimau dengan harga antara Rp100 hingga Rp200 ribu. Sedangkan dua lembar kulit harimau besar itu rencananya dijual seharga Rp57 juta. Dia berharap mendapatkan uang itu untuk memperbaiki kuburan orangtuanya dan modal membeli ternak," terangnya.

Dalam kasus ini, P dijerat dengan Pasal 21 junto Pasal 40 UU RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman paling lama 5 tahun penjara dan denda Rp100 juta.

"Saat ini, tersangka masih dititipkan di Polda Sumut untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kami imbau masyarakat yang masih menyimpan bagian tubuh satwa yang dilindungi, kami imbau untuk menyerahkan kepada petugas. Jika tidak, saat nanti ketahuan bisa dipidana," tegasnya.

Sumber : cnnindonesia.com

print  word  pdf

 

Narotama News & Events
Tangis Haru Warnai Yudisium Pertama PG PAUD Universitas Narotama Tangis Haru Warnai Yudisium Pertama PG PAUD Universitas Narotama

18 September 2019, 06:03:29

Masruroh menangis haru saat mendengarkan ucapan selamat dari Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Narotama (UNNAR), Andini Dwi Arumsari, S.Psi.,M.Psi.,Psikolog saat penggelaran Yudisium, Sabtu (14/9/2019). Masruroh adalah peserta yudisium yang juga merupakan lulusan tertua dalam yudisium pertama Program Studi PG PAUD UNNAR. Semangatnya yang begitu besar untuk menyelesaikan studi, ia ungkapkan, adalah berkat Dekan dan jajaran dosen serta ....Selengkapnya

print    word   pdf

Public News