go green
Universitas Narotama Peduli
LPPM Universitas Narotama Bekerjasama dengan Kemahasiswaan Universitas Narotama menyelenggarakan DONASI untuk merespon semakin merebaknya penyebaran Virus Covid-19

Ka.LPPM Direktur Kemahasiswaan
Dokumentasi :

Recent Issues

China Resmi Larang Perdagangan Hewan Liar karena Corona

China Resmi Larang Perdagangan Hewan Liar karena Corona

27 Februari 2020, 09:00:07

Jakarta -- Pemerintah China secara resmi mengumumkan larangan perdagangan dan konsumsi satwa liar yang diyakini sebagai sumber penyebaran virus corona.

Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional (NPC) menyetujui proposal larangan perdagangan satwa liar ilegal sebagai upaya mengurangi kebiasaan mengonsumsi satwa liar. Aturan ini disebut juga untuk melindungi kesehatan masyarakat dan keamanan ekologis.

Mengutip Xinhua, pemerintah dilaporkan akan menindak perdagangan ilegal satwa liar.

Sementara itu, penggunaan hewan liar untuk keperluan penelitian ilmiah, pengobatan alternatif, dan pameran harus melalui pemeriksaan dan persetujuan departemen pengawas sesuai aturan.

Larangan ini resmi diberlakukan setelah pemerintah China menghentikan perdagangan hewan liar pada 26 Januari lalu untuk menghentikan penyebaran virus corona. Larangan itu awalnya berlaku sementara sampai penyebaran virus corona terkendali.

Ahli konservasi dan ahli virus kemudian menyerukan larangan permanen terhadap perdagangan dan konsumsi hewan liar serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggarnya.

Laporan China Central Television (CCTV) menyoroti masalah utama konsumsi hewan liar secara berlebihan dan bahaya kesehatan dan keselamatan yang tersembunyi di balik itu.

Virus corona ditengarai muncul dan menyebar dari pasar yang menjual hewan liar untuk kebutuhan konsumsi di Wuhan, China. Sejumlah ilmuwan berspekulasi peneybaran virus corona berasal dari kelelawar, trenggiling, atau mamalia lain.

Aturan mengenai perdagangan hewan liar juga sempat diberlakukan sementara ketika penyebaran virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) menewaskan ratusan orang di China dan Hong Kong pada 2002-2003 lalu.

Hanya saja, larangan itu hanya berlaku sementara dan para konservasionis menudung China tetap mentolerir perdagangan hewan liar.

Sumber : cnnindonesia.com

print  word  pdf

 

Narotama News & Events
Fasilkom Universitas Narotama Luncurkan BELINDA & JUMINTEN, Solusi Pembelajaran Daring Interaktif Fasilkom Universitas Narotama Luncurkan BELINDA & JUMINTEN, Solusi Pembelajaran Daring Interaktif

07 April 2020, 10:45:59

Pandemi COVID-19 telah mengubah pola pendidikan konvensional yang mendadak harus dilakukan berbasis dalam jaringan (daring = online). Beberapa sekolah mengalami kesulitan mengadopsi cara belajar daring dan melakukan pemantauan yang terekam secara rapi. Banyak siswa mengeluh dan menganggap belajar daring hanyalah tugas daring saja. Menyikapi kondisi tersebut, Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Narotama tergerak memberikan solusi dengan BELINDA & JUMINTEN sebagai ....Selengkapnya

print    word   pdf

Public News

Jokowi Minta Warga Tak Pakai Masker Medis
07 April 2020, 09:00:00

Jokowi Minta Warga Tak Pakai Masker Medis Jakarta -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo mengatakan Presiden Joko Widodo meminta semua warga menggunakan masker untuk mencegah virus corona (Covid-19). Meski begitu, kata Doni, Jokowi meminta .....

Bos Ojol Respons Aturan PSBB Larang Angkut Orang Kala Corona
07 April 2020, 09:00:00

Bos Ojol Respons Aturan PSBB Larang Angkut Orang Kala Corona Jakarta, Representatif perusahaan ride-hailing asal Singapura, Grab di Indonesia mengatakan pihaknya tengah melakukan kajian lebih mendalam soal pedoman pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang melarang ojek online (ojol) untuk mengangkut .....

Jokowi Kuak 3 Masalah Pendidikan yang Harus Dibereskan
07 April 2020, 09:00:00

Jokowi Kuak 3 Masalah Pendidikan yang Harus Dibereskan JakartaJakarta, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyatakan terdapat tiga permasalahan pendidikan yang harus segera diatasi di Indonesia. Ia menyatakan persoalan itu merujuk pada hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) .....