go green
Recent Issues

LAPAN Ungkap soal Gerhana Bulan dan Pasang Air Laut Jakarta

LAPAN Ungkap soal Gerhana Bulan dan Pasang Air Laut Jakarta

11 Januari 2020, 09:00:00

Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) menyebut fenomena Gerhana Bulan yang akan terjadi pada 11 Januari mempengaruhi pasang air laut. Hal itu menyebabkan terjadinya pasang maksimum, khususnya di bagian utara Jakarta.
"Setiap Bulan baru [termasuk Gerhana Matahari] dan Bulan Purnama [termasuk Gerhana Bulan], gaya pasang surut Bulan diperkuat oleh Matahari karena posisinya yang hampir segaris. Akibatnya terjadi pasang maksimum atau pasang tertinggi," kata Ketua LAPAN Thomas Djamaludin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (6/1).

Lebih lanjut, LAPAN memastikan gerhana bulan tak menyebabkan banjir, melainkan mempengaruhi lambatnya genangan air terbuang ke laut karena biasanya saat gerhana tiba akan turun hujan.

Saat ditemui di kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) beberapa waktu lalu, Thomas menyebut ketinggian air maksimum bisa mencapai 1,4 meter. Namun saat ini ketinggian air hanya 40 sentimeter karena baru memasuki fase pasang-surut perbani (neap tides).
Berdasarkan data BPPT, rata-rata ketinggian air laut bisa mencapai 1,4 meter saat pasang-surut purnama. Sementara itu, sekarang masuk fase pasang-surut perbani dengan ketinggian air hanya 40 sentimeter, karena posisi Bulan tidak diperkuat dengan Matahari.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui keterangan rilis hari ini (8/1) pun mengatakan pasang naik maksimum di Teluk Terjadi berpotensi terjadi pada 9-12 Januari 2020 dengan ketinggian maksimum 0,6 meter.
Hal itu berpotensi menghambat laju aliran air sungai masuk ke laut di Teluk Jakarta. Gerhana Bulan Penumbra (GBP) sendiri dijadwalkan menyambangi wilayah Indonesia pada 11 Januari 2020. Gerhana ini terjadi saat wajah Bulan Purnama lebih redup dari biasanya.

Bulan Purnama akan tertutup oleh bayang-bayang penumbra Bumi sebesar 77 persen.
Sementara pasang-surut purnama (spring tides) terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada di satu garis lurus. Fenomena ini umumnya terjadi dua kali setiap bulan, yakni saat bulan baru dan bulan Purnama.




Sumber: CnnIndonesia

print  word  pdf

 

Narotama News & Events
Universitas Narotama Menggelar `3rd World Conference` Kolaborasi Bidang Ilmu Universitas Narotama Menggelar `3rd World Conference` Kolaborasi Bidang Ilmu

18 Februari 2020, 04:06:27

Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Narotama (UN) menggelar 3rd World Conference on Management, Business, Accounting, Sustainability Development, Engineering, Computer, Education, Applied Science, Humaniora, and Social Science yang berlangsung di Ibis Hotel Surabaya, Sabtu (15/2/2020). Konferensi internasional tersebut menghadirkan keynote speaker diantaranya adalah Prof. Dr. Abdul Thalib Bin Bon (Manajemen Teknologi, Department of Production and Operations Management UTHM), ....Selengkapnya

print    word   pdf

Public News

Dinkes Ungkap 52 Orang di Jakarta Diobservasi Terkait Corona
18 Februari 2020, 09:00:00

Dinkes Ungkap 52 Orang di Jakarta Diobservasi Terkait Corona Jakarta -- Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengumumkan sempat melakukan observasi kepada 52 orang di Jakarta karena suspek corona atau Covid-19 beberapa hari lalu. Setelah observasi, 52 orang suspek ini dinyatakan negatif .....